Rabu, November 14, 2012

1001 Burung Kertas

Galang dan Alya, sepasang kekasih yang berasal dari dua keluarga yang berbeda status sosial. Alya berasal dari keluarga kaya dan serba berkecukupan, sedangkan Galang berasal dari keluarga miskin yang menggantungkan kehidupannya pada warung kecil didepan rumah.

Galang sangat mencintai Alya. Sebagai ungkapan rasa cinta ini, ia telah melipat 1000 buah burung kertas dan Alya dengan
 senang hati menggantung burung-burung kertas tersebut dikamarnya. Dalam tiap burung kertas Galang tuliskan berbagai harapan. Banyak sekali harapan yang telah diungkapkan. Semoga kita selalu saling mengasihi satu sama lain, semoga Tuhan melindungimu dari bahaya, semoga kita mendapatkan kehidupan yang bahagia dsb. Semua harapan itu telah disimbolkan dalam burung kertas yang diberikan kepada Alya.

Suatu hari Galang melipat burung kertasnya yang ke 1001. Burung itu dilipat dengan kertas transparan sehingga kelihatan sangat berbeda dengan burung-burung kertas lainnya. Ketika memberikan burung kertas spesial ini ia berkata, “Alya, ini burung kertasku yang ke 1001. Dalam burung kertas ini aku mengharapkan adanya kejujuran dan keterbukaan antara kita. Aku akan melamarmu dan akan segera menikahimu. Semoga kita dapat mencintai sampai kita menjadi kakek nenek dan sampai Tuhan memanggil kita berdua”.

Saat mendengar kalimat itu Alya menangis lalu berkata, “Galang, senang sekali aku mendengarnya, tetapi aku telah memutuskan untuk tidak menikah denganmu karena aku butuh uang seperti kata orang tuaku”.

Ia marah sekali saat mendengar jawaban itu hingga mengatai Alya sebagai cewek matre, orang tak berperasaan, kejam, dan sebagainya. Tanpa basa-basi ia pergi meninggalkan Alya yang menangis seorang diri.

Kejadian itu membakar semangatnya. Ia pun bertekad bahwa ia harus sukses dan menggapai keberhasilan. Sikap Alya dijadikan cambuk untuk maju dan maju. Dalam setahun usahanya menampakkan hasil. Ia diangkat menjadi kepala bagian ditempatnya bekerja dan dalam tiga tahun ia telah diangkat menjadi seorang manajer. Dua tahun kemudian ia berhasil mempunyai 50% saham diperusahaan tersebut. Sekarang tak seorangpun yang tak kenal dengannya, ia adalah bintang kesuksesan.

Suatu hari ia berkeliling kota dengan mobil mewah keluaran terbaru. Tiba-tiba dilihatnya sepasang suami-istri yang serasa tak asing tengah berjalan diteriknya matahari. Suami istri itu kelihatan lusuh dan tidak terawat. Ia pun penasaran lalu mendekati mereka. Didapatinya bahwa suami istri itu adalah orang tua Alya. Ia mulai berpikir untuk memberi pelajaran mengingat kesombongan mereka dimasa lalu, tetapi nuraninya melarang hingga niat tersebut dibatalkan. Akhirnya diputuskan untuk membuntuti kemana perginya kedua orang tua itu.

Ia terkejut ketika melihat orang tua Alya masuk ke komplek makam dan mendatangi sebuah pusara yang dipenuhi dengan burung kertas. Lebih terkejut lagi ketika mendapati nama Alya dibatu nisan makam. ”Apa yang terjadi ibu?” tanyanya. Orang tua Alya terkejut dan menoleh lalu berkata “Oh Galang, ternyata Alya benar, kami tak akan kesulitan menemukanmu. Sekarang kami jatuh miskin. Harta kami habis untuk biaya pengobatan Alya yang terkena kanker rahim. Meski sudah berusaha tapi kami tak mampu menyelamatkannya. Alya sempat berpesan agar kami menyampaikan permintaan maafnya padamu. Ia juga menitipkan surat ini untukmu”.

Tanpa pikir panjang, dibacanya surat itu. “Galang, maafkan aku. Aku terpaksa membohongimu. Aku terkena kanker rahim yang tak mungkin disembuhkan. Aku tak mungkin mengatakan hal ini saat itu, karena jika itu kulakukan, aku akan membuatmu jatuh dalam kehidupan penuh keputusasaan yang akan membawa hidupmu pada kehancuran. Aku tahu semua tabiatmu, karena itu aku lakukan ini. Aku mencintaimu Galang. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untukmu”. Alya.

Linangan bening tak lagi terbendung meski tangis itu kini tiada berguna. Ia telah berprasangka buruk terhadap Alya. Mulai merasakan betapa hati Alya teriris ketika ia mencemoohnya, mengatainya matre, kejam dan tak berperasaan. Ia merasakan betapa Alya kesepian seorang diri dalam kesakitannya hingga maut menjemput. Betapa Alya mengharapkan kehadirannya di saat-saat penuh penderitaan itu. Tetapi ia lebih memilih untuk menganggap Alya sebagai seorang matre tak berperasan. Alya telah berkorban untuknya agar ia tak jatuh dalam keputusasaan dan kehancuran.

Cerita ini ditulis untuk menjadi sebuah renungan.
Cinta bukan hanya sebuah pelukan atau ciuman tetapi cinta adalah pengorbanan untuk orang yang sangat berarti bagi kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar